Israel dan Hamas telah menyepakati gencatan senjata yang akan berlaku mulai 19 Januari 2025, setelah 15 bulan konflik di Gaza.
Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, mengumumkan bahwa tahap pertama gencatan senjata ini mencakup penyaluran bantuan kemanusiaan ke seluruh Gaza dan pembebasan 33 tawanan Israel.
Warga Gaza menyambut baik pengumuman ini, berharap bahwa perdamaian akan segera terwujud setelah lebih dari satu tahun konflik yang menyebabkan banyak korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.
Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, menyatakan bahwa kesepakatan ini akan menghentikan kekerasan dan membuka jalur bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina, serta menyatukan kembali sandera dengan keluarga mereka.
Tahap pertama kesepakatan ini mencakup:
- Penarikan militer Israel hingga 700 meter di dalam Gaza.
- Pembebasan sekitar 2.000 tahanan Palestina oleh Israel, termasuk 250 orang yang menjalani hukuman seumur hidup.
- Pembebasan 33 tawanan Israel oleh kelompok-kelompok Palestina.
- Izin bagi orang-orang yang terluka di Gaza untuk bepergian guna menerima perawatan medis.
- Pembukaan penyeberangan Rafah dengan Mesir tujuh hari setelah dimulainya tahap pertama.
- Penarikan pasukan Israel dari perbatasan Gaza dengan Mesir pada tahap-tahap selanjutnya.
Tahap kedua dan ketiga akan mencakup pembebasan tawanan yang tersisa, penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza, pemulangan jenazah, dan dimulainya rekonstruksi di Gaza di bawah pengawasan internasional.
Meskipun kesepakatan ini membawa harapan bagi perdamaian, belum ada keputusan mengenai siapa yang akan mengelola Gaza setelah gencatan senjata.

