Candi Sukuh sangat berbeda dengan candi-candi yang ada Jawa. Bangunannya cenderung mirip dengan bangunan era suku Maya di Meksiko atau suku Inca di Peru. Bisa juga dikatakan sangat mirip dengn piramida di Mesir. Yang pasti candi ini patut dikunjungi para senior dan perlu untuk mengingat kehabatan bangsa kita di masa lalu.
Candi Sukuh yang merupakan candi Hindu, terletak di Desa Berjo, Kabupaten Karanganyar. Jarak dari Solo sekitar 36 km, akan melewati jalan yang mulus dan ada beberapa tikungan tajam. Seperti Candi Cetho, Candi Sukuh juga ada di kaki Gunung Lawu.
Tidak seperti candi-candi lainnya, Candi Sukuh berbentuk trapesium. Dengan tumpukan batu andesit yang disusun sangat sederhana. Sepintas tidak semegah Borobudur atau Prambanan, namun candi ini menyimpan keunikan yang tidak ditemui ditempat lain. Candi yang dibangun Ratu Suhita (1429-1446) pada masa menjelang runtuhnya Majapahit bisa dikatakan kontroversial. Karena relief-relief yang ada banyak menggambarkan bentuk-bentuk lingga (alat kelamin laki-laki) dan yoni (alat kelamin perempuan). Sebenarnya lingga dan yoni menurut mitologi diartikan sebagai wujud dari reproduksi yang sakral bukan hal-hal yang berbau pornografi.
Candi Sukuh ditemukan pertama kali oleh peneliti Inggris Johson tahun 1815. Kemudian tahun 1842 dilanjutkan oleh arkeolog Belanda Van der Vlis dan dipugar tahun 1928. Temuan yang berharga ini sering diartkan dalam dua versi. Yang pertama versi legenda, menggambarkan kisah cinta sepasang kekasih yang tidak mendapatkan restu karena perbedaan kasta.
Versi kedua bersadarkan relief yang ada, menggambarkan kisah pewayangan seperti kisah si kembar dari Pendawa Lima yaitu Nakula dan Sadewa lengkap dengan punakawannya. Menurut pribon utama candi Sukuh, yaitu Kidung Sudamala. Dimana Sadewa jatuh cinta dengan Ni Padapa, puteri Tambrapetra seorang pertapa buta. Namun dihalang-halangi oleh Betari Durga.
Relief berikutnya, ada adegan Bima yang sedang mengadu kekuatan dengan dua raksasa Kalantaka dan Kalanjaya. Yang akhirnya Bima berhasil mengangkat raksasa tersebut dan menancapkan kuku Pancanakanya yang sangat mematikan. Pada bagian lain terdapat dua sosok patung Garuda yang merupakan bagian dari cerita pencarian tirta amerta atau air kehidupan. Selain patung Garuda juga ada beberapa patung hewan lainnya seperti kura-kura yang melambangkan bumi dan penjelmaan Dewa Wisnu. Juga ada patung babi hutan dan gajah yang berpelana.
Bangunan Candi Sukuh terdiri dari tiga teras. Pada masanya semua teras dibangun gapura yang berdiri dengan anggunnya. Kini hanya beberapa gapura yang masih utuh, padahal semua gapura ini sarat dengan relief yang bermakna kearifan lokal tentang alam semesta dan isinya.
Pada teras pertama terdapat gapura utama yang masih dalam keadaan baik. Para arkeolog meyakini relief yang ada merupakan gambaran tahun selesainya pembuatan candi ini. Gapura kedua sudah rusak. Yang tersisa hanya bekas patung penjaga pintu yang biasa disebut sebagai Dwarapala. Pada teras ketiga ada pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief dan patung-patung yang tidak terawat.
Ada sebuah bangunan kecil di depan candi utama yang disebut Candi Pewara. Bagian tengah bangunannya berlubang dan ada patung kecil tanpa kepala. Patung ini dikeramatkan oleh para peziarah sebab sering kali diberi sesajian berupa kemenyan dupa atau hio. Dari berbagai penelitian, para ahli menduga candi itu dibangun untuk ruwat, ritual tolak bala atau menangkal hal-hal buruk. Terbukti sampai saat ini banyak peziarah yang datang untuk melakukan sembahyang atau melakukan ritual yang mereka percayai.
Apa pun maksud dan tujuannya, Candi Sukuh patut dikunjungi terutama bagi Warga Senior yang mencintai budaya kita yang adi luhung. Lokasinya mudah ditemukan dan aman untuk para senior. Masih banyak ceritera tersimpan di candi ini yang patut disebar luaskan ke anak-cucu agar lebih mencintai budaya dan alam semesta.


Inspiring magazine.. This is new for me, congratulations.
Just try to keep away from politics because it drags senior into controversy and polemics.
Hopefully many senior persons will share their views and experience here, mostly in culture.