Takjil (hidangan buka puasa) merupakan makanan ringan yang sangat dirindukan pada bulan Ramadhan. Salah satunya adalah Bubur India asal Semarang, yang sudah dikenal ratusan tahun lalu dan masih diminati sampai saat ini.
Bermula dari Masjid Djami Pekodjan, masjid kuno yang dikenal di daerah pecinan Kota Semarang. Tiap bulan Ramadhan selalu menghidangkan Bubur India sebagai hidangan berbuka puasa. Bubur yang lezat bagi sebagian orang bisa dijadikan hidangan utama, tapi ada juga yang menyantapnya sebagai takjil. Tiap hari lebih dari 200 mangkok disediakan untuk para Jemaah yang hadir atau para pendatang yang ingin mencicipi bubur dengan gratis.

Selepas dzuhur semua bahan sudah disiapkan, lalu dimasak oleh keluarga Marboot secara turun temurun. Karena mereka harus menjaga rasa dan aroma agar terjaga keasliannya. Cara memasaknya juga unik, 20 kg beras dimasak dengan santan diatas kuali tembaga yang sudah berumur ratusan tahun. Lalu dipanaskan dengan kayu bakar supaya matang dengan merata. Kemudian diaduk sekitar dua jam secara bergantian. Adonan ini memberikan rasa dan aroma khas karena diberi bumbu berupa daun sere, daun pandan wangi, kayu manis, jahe, bawang putih dan garam.
Setelah matang para Takmir masjid akan membagikannya dalam mangkok plastik yang ditambah dengan lauk pauk dan sayuran. Biasanya berupa telor, sayur lodeh, sambal goreng bahkan sate kambing. Kadang ada buah-buahan sumbangan dari donator. Semua itu ditata dengan apik diserambi masjid. Siapa pun boleh mengambilnya. Bahkan penduduk setempat rela antre untuk mendapatkan makanan lezat di bulan yang penuh berkah.
Empat Etnis dalam Bubur India
Asal muasal dinamakan Bubur India karena pertama kali diperkenalkan oleh para pedagang India asal Gujarat yang singgah di Semarang. Sebagai kota pelabuhan, tempat ini sering disinggahi para padagang dari Arab, India dan Cina. Sekitar 1878 pendatang asal Gujarat mendirikan masjid sebagai tempat ibadah mereka yang kemudian dikenal sebgai Masjid Pekojan. Saat ini Masjid Pekojan sudah menjadi Cagar Budaya yang dipelihara keasliannya.
Secara tak langsung, Masjid Pekojan menjadi perekat empat etnis yaitu India, Cina, Arab dan Jawa melalui kelezatan Bubur India. Sejak 200 tahun yang lalu, makanan khas berbuka puasa ini menjadi makanan wajib para pedagang saat bulan Ramadhan..Mereka berbuka puasa bersama, menyantap makanan yang sama dan beribadah bersama-sama. Sampai saat ini keturunan ke-empat etnis ini masih menetap didaerah Pekojan. Ke-empatnya telah berbaur hidup dalam kedamaian.
Sungguh suatu pemandangan yang menyejukkan apabila berbagai etnis menyatu dalam tujuan yang mulia.
