Dia adalah Syekh Syarif Hidayatullah. Tokoh ternama yang juga dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati ini merupakan salah satu dari sembilan wali atau Wali Songo. Ia merupakan salah seorang sosok yang berperan besar dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa.
Sunan Gunung Jati lahir di Makkah Al-Mukarramah dengan nama Syarif Hidayatullah tahun 1448. Ibunya Nyai Rara Santang seorang bangsawan dari Pajajaran. Menikah dengan Syarif Abdullah Al-Hasyimi, bangsawan dari Timur Tengah. Pasangan ini bertemu di Makkah ketika ibu dari Sunan Gunung Jati menunaikan ibadah haji bersama kakaknya Pangeran Cakrabuana.
Karena ayahnya menjadi penguasa Bani Ismail di Mesir, maka Syarif Hidayatullah menghabiskan masa kecil dan remajanya di Mesir. Setelah berusia dua puluh tahun, dia memperdalam agama Islam ke Makkah. Kemudian anak muda yang haus ilmu ini melanjutkan pelajarannya ke Gujarat India, Samudra Pasai Aceh, Banten, Kudus dan Surabaya untuk menjadi murid Sunan Ampel. Setelah itu, dia menyebarkan agama Islam di Cirebon dan sekitarnya dan mendirikan pesantren di daerah Gunung Jati. Maka dia pun dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.
Makam Dengan Sembilan Pintu
Tahun 1568 Sunan Gunung Jati wafat pada usia 120 tahun. Beliau dimakamkan di kompleks pemakaman bangsawan Cirebon Astana Gunung Jati yang terletak di Desa Astana, Kecamatan Cirebon Utara karena Sunan Gunung Jati sempat memimpin Kesultanan Cirebon dengan gelar Panetep Panatagama. Kini makamnya menjadi salah satu lokasi Wisata Religi yang didatangi berbagai wisatawan dalam dan luar negeri.
Pemakanan yang ada di perbukitan Gunung Sembung ini mempunyai sembilan pintu. Yaitu pintu Gapura, pintu Krepyak, pintu Pasujudan, pintu Ratnakomala, pintu Jinem, pintu Rararoga, pintu Kaca, pintu Bacem, dan pintu Teratai.
Namun tidak sembarang orang bisa masuk ke semua pintu. Masyarakat umum hanya boleh masuk sampai pintu ketiga atau Pasujudan, sedangkan keturunan Sunan bisa masuk ke semua pintu. Larangan ini diberlakukan karena pusara makan Sunan Gunung Jati berhiaskan Batu Mutu Manikam yang bernilai tinggi seperti zamrud, giok, intan, safir, dan batu mulia lainnya.

Kompleks makam Astana Gunung Jati memuat sekitar 500 makam, termasuk makam putri Ong Tien Nie, putri Cina salah satu istri dari Sunan Gunung Jati. Lalu Makam Nyi Mas Rara Santang ibunda Sunan Gunung Jati juga makam anak-anak, menantu dan keluarga dekat lainnya.
Peziarah yang Melimpah
Seperti makam-makam para wali yang lain, makam Sunan Gunung Jati tidak pernah sepi peziarah. Di jalan menuju makam pun sudah nampak keramaian dengan berbagai warung dan lapak-lapak menjual ornamen-ornamen religi, souvenir juga mainan anak-anak. Begitu masuk ke halaman makam sudah terasa nuasa religius, gaung suara orang berzikir, membaca yasin, tahlil, wirid, doa, shalawat menggema disetiap sudut. Banyak rombongan yang datang dari beberapa daerah bahkan dari manca negara. Kadang ada rombongan masyarakat Tionghoa biasanya berziarah untuk menghormati Putri Ong Tien.
Peziarah makin berlimpah saat ada upacara yang sudah menjadi tradisi tahunan, seperti tradisi Munggahan yang diadakan setiap menjelang bulan Ramadhan dan Tradisi Grebeg Syawal yang rutin diadakan di hari kedelapan setelah Idul Fitri. Tradisi itu merupakan ziarah kubur yang dibarengi tradisi Surak atau membagikan uang ke masyarakat. Biasanya berlangsung seru melihat masyarakat berebut uang koin. Mereka meyakini koin tersebut akan membawa berkah.
Ada juga tradisi Panjang Jimat dilakukan pada peringatan Maulid Nabi, mencerminkan ajaran Islam yang sudah dimodifikasi dengan budaya setempat. Panjang diartikan sebagai proses kelahiran dan Jimatdiartikan sebagai Ji (diaji/dipelajari)) dan mat (dirumat/diamalkan).Tradisi ini membawa pesan ajaran Islam terus dipelajari dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Semua ini mengacu pada pesan Sunan Gunung Jati sebelum wafat “Ingsun titip tajug lan fakir miskin,” yang artinya,menitipkan masjid sebagai tempat beribadah dan fakir miskin sebagai pengingat untuk selalu berzakat.
Yang pasti Makan Sunan Gunung Jati aman dikunjungi warga senior. Tangga yang ada tidak terlalu tinggi. Sedikit tips, sebaiknya berkunjung saat hari-hari biasa, tidak terlalu ramai sehingga bisa khusyuk untuk berziarah sambil menikmati interior makam yang temboknya ditempel porselin-porselin Cina dalam berbagai versi.
Kadang perlu berwisata religi selain untuk healing (istilah kaum millennial) bersama teman-teman, juga menambah pengetahuan untuk diceriterakan kepada anak cucu tentang beratnya perjuangan menimba ilmu dan melaksanakan dakwah sampai akhir hayat.
