Miracle bisa terjadi dimana saja, apa pun kejadiannya patut disyukuri. Bisa jadi kejadian tersebut pertanda Tuhan mencintai hambanya.
Kisah ini dimulai ketika saya selalu merasa baik-baik saja. Umur sudah kepala 5 tidak menjadi masalah. Yang penting hidup sehat, selalu berkegiatan apakah olehraga kecil-kecil, bersosialisasi dengan tetangga, teman sekolah atau mantan teman kantor. Belum lagi kesibuhan ngurus rumah sehari-hari tanpa bantuan pembantu. Kecuali kalau ada sesuatu yang tidak bisa saya tangani. Rasanya tidak ada waktu yang terbuang. Mulai dari belanja, bayar-bayar tagihan sampai ke pengajian. Saya lakoni dengan gembira, tanda beban.
Seperti pada orang Jawa pada umumnya, kalau badan merasa lelah atau ada sesuatu yang mengganggu, cukup diselesaikan dengan pijet atau kerokan. Itulah yang saya lakukan bertahun-tahun. Suatu ketika pulang dari pengajian badan saya sangat tidak enak. Ada rasa mual, pusing, lemas dan tidak berdaya. Lalu adik saya yang kebetulan dekat dengan rumah membawa saya ke Rumah Sakit swasta di sekitar Lebak Bulus.
Setelah diobeservasi semalam, akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit klas 1 versi BPJS dengan sewa ambulance sebesar 2.5 juta. Setiba disana dimasukkan ruang ke IGD,yang penuh dengan aneka ragam pasien dengan tingkah polah masing-masing. Ada yang tidak sadarkan diri, sebagian lagi sedang menunggu penangangan secara cepat. Bisa dibayangkan sibuknya pamedis dan dokter di ruang ICU itu.
Singkat cerita, karena kondisi saya tidak baik-baik saja maka perawatan dilanjutkan ke ruang HCU (high care unit). Ruangannya agak menakutkan. Saya hanya bisa pasrah dan tidak merasakan apa-apa lagi. Pokoknya semua badan sakit, kalau dibaringkan sesak nafas walau sudah dipasang oksigen. Jadi saya hanya bisa setengah duduk dan luar biasa ngantuk. Infus dilakukan di kaki karena tangan sudah tidak bisa ditusuk jarum infus lagi. Antara sadar dan tidak mulailah perjalanan, yang kemudian menjadi salah satu kekayaan rohani.
Saya merasa sedang berjalan-jalan seperti yang biasa saya lakukan tiap hari. Bertemu dengan orang-orang dengan berbagai permasalahannya. Mendengarkan ceritera mereka, ada yang saya kenal ada juga orang yang belum pernah saya temui. Lalu berlanjut mendatangi rumah orang-orang yang sedang kesripahan seperti layaknya orang yang takziah. Sedih melihat keluarga yang ditinggalkan. Saya sangat terkesan, ketika melihat seorang anak laki-laki autis berteriak-teriak karena ayahnya telah meninggal. saya
Waktu itu, saya merasa berada dalam tumpukan daun-daunan. Tempatnya begitu bersih, segar dan jernih. Rasanya saya berubah wujud menjadi embun, bukan lagi manusia. Lalu, ada dorongan kuat dari diri saya untuk bangun. Saya berteriak kepada suster yang lewat untuk memegang tangan saya. Tapi dia tidak mendengar dan pergi begitu saja. Entah apa yang terjadi selanjutnya, ketika sadar saya melihat saudara-saudara ada didekat saya. Saya merasa tidak sendirian dan sudah menjadi manusia seutuhnya. Adik-adik dan kakak saya yang tinggal di luar negeri pun datang menjenguk.
Setelah sembuh, mereka berceritera bahwa saya koma 5 hari dan mereka sudah menyiapkan segala sesuatu seandainya saya dipanggil Allah. Kejadian yang saya alami mungkin merupakan ilusi antara sadar dan tidak. Namun ada benang merah yang tersambung dan dalam kenyataannya beberapa ilusi tersebut satu-satu terbukti. Ketika dalam suatu kesempatan saya menghadiri resepsi perkawinan, secara nyata saya bertemu dengan anak laki-laki yang berteriak-teriak saat ayahnya meninggal.
Alhamdulillah sampai saat ini saya masih hidup walau harus menjalani cuci darah dua kali seminggu. Terima kasih Allah yang masih memberikan kehidupan.

