Gigi Balang

Penulis: Zaska

Bersepeda sejauh 40-an kilometer. Di jalanan Jakarta. Bukanlah merupakan suatu hal yang istimewa. Apalagi buat para penggiat bersepeda yang fanatik. Tapi bersepeda dengan seorang rekan, di Minggu pagi itu, menjadi sebuah pengalaman yang istimewa buat saya.

Saya amat senang dan menikmatinya. Terutama ketika bersepeda di penggalan bagian tengah perjalanan. Yaitu di lintasan antara Ciledug dan Tendean. Ada cara tersendiri untuk bisa “masuk” ke dalam lintasan ini, ketika kami memulainya di daerah Ciledug. Kami harus terlebih dulu menemukan sebuah celah di pagar lintasan. Celah itu adalah peruntukan tiang lampu jalan yang belum ada tiangnya. Terletak di ketinggian kira-kira setengah meter dari permukaan jalan. Dengan lebar 50-an cm. Nah, itu dia celahnya.

Sepeda kepunyaan pesepeda lain yang juga masuk ke lintasan. Saya melihat ada seorang pria paruh baya berdiri di pinggir jalan, di mulut celah. Dia memberi isyarat pada beberapa pesepeda yang akan masuk ke dalam lintasan. Rupanya bapak itu adalah penyedia jasa untuk membantu mengangkat sepeda ke dalam lintasan. Sayapun mengikuti instruksi yang dia berikan.

Saya memanjat melalui celah untuk masuk ke lintasan. Lalu bapak itu meloloskan sepeda saya melalui celah. Dan saya menyambutnya dari dalam lintasan.

“Terima kasih, pak.” Kata saya sambil memberikan uang tip.

Setelah mengambil beberapa gambar di titik awal. Kami mulai mengayuh pedal. Jam menunjukkan pukul 9. Pagi itu langit Jakarta cerah membiru. Dan matahari bersinar ramah menghantarkan kehangatan.

Cuaca yang ideal untuk melakukan kegiatan di luar ruangan. Dan memang seperti itulah keadaannya.

Banyak orang terlihat berkegiatan di lintasan. Berjalan kaki. Jogging. Bersepeda santai. Bersepeda “serius”. Mengambil foto dengan kamera pintar. Atau sekedar duduk-duduk bergerombol, sambil ngobrol.

Baca juga:  5 Tempat Wisata Ramah Lansia di Jakarta dan Sekitarnya

Rentang usianya pun tampak lapang. Ada remaja. Ada anak-anak. Ada orang tua.

Tak lama menyusuri jalan yang menanjak landai, kami melewati sebuah halte bis yang masih tampak kosong dan baru. Ini adalah satu dari 12 halte yang kami temui di sepanjang perjalanan menuju Tendean. Seolah ingin berlama-lama di lintasan, kami mengayuh pedal dengan putaran yang ringan dan santai. Maklumlah, lintasan ini berbeda dengan jalan-jalan yang biasa kami lewati. Karena pagi itu kami gowes di jalan beton yang mengawang. Di ketinggian yang berkisar antara 18 hingga 23 meter dari atas permukaan tanah.

Kami sering berhenti. Untuk menikmati pemandangan Jakarta dari sudut pandang yang unik.

Di mana kami melihat gedung tinggi, rumah, tiang listrik, pohon dan jalan yang berada di bawah. Juga kendaraan yang lalu lalang. Sinar mentari yang memancar ramah tanpa hambatan, terasa amat membantu pencahayaan. Sehingga obyek-obyek foto bisa lebih tajam diabadikan melalui lensa kamera yang ada di telepon pintar.

Gigi Belalang

Salah satu obyek khas yang saya abadikan adalah pagar tembok di kiri-kanan lintasan. Tembok itu dihiasi oleh corak “Gigi Balang”, yaitu corak khas Betawi. Warnanya hijau kuning. Corak Gigi Balang dengan warna hijau dan kuning. Bentuk ornamen gigi balang berupa segitiga berjajar menyerupai gigi belalang yang melambangkan bahwa hidup harus selalu jujur, rajin, ulet dan sabar.

blank
pagar tembok di kiri-kanan lintasan yang dihiasi corak gigi balang (foto: zaska)

Belalang difilosofikan sebagai binatang yang hanya bisa mematahkan kayu jika dikerjakan secara terus-menerus dan dalam tempo yang tak sebentar. Adapun warna kuning pada motif tersebut melambangkan kehangatan, cerdik, dan berbakat dalam bisnis. Sementara warna hijau bermakna harmoni dalam perbedaan. (Sumber: Makna Gigi Balang di Jalan Tendean: Kejujuran Hingga Kesabaran, kumparan.com, 27 Februari 2017)

Entah berapa lama kami bersepeda, akhirnya kami pun tiba di ujung lintasan layang, di Tendean. Aplikasi di telepon pintar merekam jaraknya hanya sekitar 10-an kilometer. Tapi pengalaman ini telah menorehkan suatu kesenangan yang dalam. Trying something new opens up the possibility for you to enjoy something new. Begitu saya baca dalam sebuah artikel di internet.

Baca juga:  Warga Senior dan Waktu

Saya merasa senang telah mencoba melakukan hal baru. Yaitu bersepeda di lintasan yang belum pernah saya lintasi. Lintasan yang belum terlalu banyak dilintasi oleh para pesepeda. Lintasan yang kecil sekali kemungkinannya untuk bisa saya telusuri lagi dengan bersepeda.

“We’re all eligible for life’s small pleasures.” Begitulah kira-kira pikiran yang muncul dalam benak saya saat itu. Yang kata-katanya saya kutip dari sebuah buku. Saya merasa beruntung telah bersepeda di sepanjang jalan layang TransJakarta koridor 13, rute Ciledug – Tendean. Sebuah jalan khusus. Di mana tidak ada kendaraan lain yang boleh melintas, selain bis TransJakarta. Dan kebetulan pada saat itu jalan belum dibuka dan diresmikan penggunaannya.

Ah, ada satu hal lagi. Motif “Gigi Balang” berwarna kuning-hijau di sepanjang lintasannya. Yang tak terputus menghiasi tembok pembatas. Dari awal lintasan, hingga akhir lintasan. Seolah mengingatkan. Agar kita bisa konsisten berperilaku jujur, rajin, ulet dan sabar.

Agar kita bisa konsisten memelihara suasana yang hangat dan harmonis dalam perbedaan. Untuk ini, mudah-mudahan Sang Khalik senantiasa memberikan petunjuk dan bimbingan kepada kita. Sehingga kita bisa konsisten menjalankannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Amin.

Leave a Comment