Menyusuri Dunia Tanpa Cahaya

Penulis: Hendro Wibisono

“Lihatlah kami dengan hati, bukan dengan kasihan”

Sungguh untaian kata-kata yang menusuk sanubari. Kadang, kita-kita yang dikaruniai kelengkapan fisik selalu merasa kurang dan lupa bersyukur. Tapi tidak bagi Pak Hamid Basuki kawan kita yang berceritera tentang bagaimana menikmati hidup dan bersyukur dalam keterbatasannya.

Kita sering menganggap penglihatan sebagai karunia utama dalam menjalani hidup. Namun, bagi sebagian orang seperti Pak M. Hamid Basuki, hidup telah berjalan indah dan bermakna bahkan tanpa cahaya sejak usia satu setengah tahun akibat panas tinggi. Tidak ada ingatan akan langit biru, rona senja, atau warna-warna kehidupan sebagaimana kita kenal. Namun, justru dalam ketidakterlihatan itu, Pak Hamid membangun dunia yang terang. Terang oleh semangat, kerja keras dan impian besar.

Di usia 49 tahun, Pak Hamid bukan hanya seorang penyintas kebutaan, tapi juga seorang pendidik, seniman dan penjelajah kehidupan yang tangguh. Ia membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang. Namun, di balik kisah inspiratif ini, ada seruan halus yang ingin ia sampaikan kepada kita semua yang bisa melihat: “Lihatlah kami dengan hati, bukan dengan kasihan.”

Masa Kecil di Tengah Kegelapan

Sejak kecil, Hamid telah ditempa untuk mandiri. Di rumah, ia tidak dimanjakan oleh orang tua atau keluarga. Ia harus tahu letak gelas sendiri, menakar jarak ke dapur dan mengenali suara langkah kakak atau ibu hanya dari bunyi lantai. Itulah awal dari latihan kepekaan dan orientasi dalam dunia yang tak terlihat.

Ketika teman-teman kecilnya sibuk bermain layang-layang atau menggambar gunung, Hamid kecil sibuk menyusun bentuk benda dari rabaan. Ia belajar membedakan ukuran sendok dan garpu, arah suara kendaraan dan bunyi pintu kamar. Tapi ia tidak merasa kecil atau rendah diri. Justru, itu membuatnya penasaran seperti apa sebenarnya dunia tempat orang-orang itu hidup? “Saya ingin tahu, ingin bisa, ingin sejajar dengan yang bisa melihat,” ujarnya.

blank
kenangan masa kecil pak hamid, saat teman-temannya bermain layang-layang atau menggambar gunung, ia sibuk menyusun bentuk benda dari rabaan dan belajar membedakan ukuran sendok dan garpu, arah suara kendaraan dan bunyi pintu kamar

Pak Hamid menempuh pendidikan luar biasa, untuk seseorang yang dianggap “terbatas.” Ia meraih gelar Sarjana Pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung, dan kini mengabdikan diri sebagai guru kesenian di SLB A Lebak Bulus, Jakarta.

Baca juga:  Miracle: Setetes Embun

Tak sekadar mengajar, ia membentuk tim angklung berisi 40 siswa tunanetra. Musik menjadi bahasa universal yang menjembatani batas indera. Di bawah arahannya, anak-anak itu bermain di gedung Pendidikan Nasional Jakarta — tak hanya memainkan nada, tapi juga harapan.

Kemandirian dan Kebutuhan Nyata

“Apakah saya butuh bantuan? Tentu,” ujar Pak Hamid. Tapi bukan berarti ia ingin dikasihani. Ia hanya ingin dimengerti dan diperlakukan dengan empati.

Dalam keseharian, ia tetap membutuhkan bantuan. Saat berbelanja, menyeberang jalan, atau mengurus keperluan di rumah sakit. Namun bukan berarti ia tidak bisa. Ia hanya butuh akses dan panduan, bukan dominasi.

Banyak orang tak tahu bagaimana cara membantu tuna netra. Padahal sederhana:

  1. Tanyakan bantuan apa yang dibutuhkan.
  2. Berikan deskripsi yang jelas tentang lingkungan sekitar.
  3. Jangan langsung menarik atau menggandeng tanpa izin.
  4. Jika ada hambatan, cukup beri tahu, lalu biarkan ia yang menavigasi dengan tongkatnya

Membuka Mata Orang yang Melihat

Pak Hamid percaya bahwa dunia akan lebih ramah bagi tuna netra jika masyarakat bisa “melihat” dengan hati. Banyak fasilitas umum belum ramah akses, misalnya trotoar yang sempit, tidak ada guidance block, atau tidak ada petugas yang tahu cara membimbing tuna netra.

Cerita beliau mengajak kita untuk mengubah sikap, bukan hanya membantu, tapi juga memahami. Bukan hanya memberikan tangan, tapi juga merendahkan hati. Seperti yang dikatakannya, “Ketika saya bisa berjalan sendiri, memilih sendiri, melakukan sendiri, saat itulah saya merasa hidup. Dan Anda bisa membuat saya sampai ke titik itu, jika Anda mau berjalan bersama, bukan di depan atau di atas saya.”

Dalam dunia gelap yang dijalani Pak Hamid, setiap empati dari kita yang melihat adalah seperti cahaya. Setiap bantuan yang tulus adalah obor yang menuntunnya dan setiap kesadaran yang tumbuh adalah harapan baru bagi komunitas tuna netra.

Baca juga:  Catatan dari Perjalanan Ke Reuni Kecil

Membantu tuna netra bukanlah amal karena kasihan. Tapi ladang amal karena cinta.

Leave a Comment