Candrasengkala, Seni Sastra Penanda Tahun dalam Sejarah Jawa

Candrasengkala adalah sistem penandaan tahun yang unik dan artistik, lazim digunakan pada masa kerajaan-kerajaan Jawa kuno hingga masa modern. Alih-alih menggunakan angka numerik, sistem ini memakai kata-kata atau frasa puitis yang setiap katanya memiliki nilai angka tertentu. Lebih dari sekadar penunjuk waktu, Candrasengkala merupakan warisan sastra yang menyimpan filosofi dan makna mendalam, seringkali diukir pada prasasti, gapura, atau naskah kuno.

Sejarah dan Filosofi di Balik Candrasengkala

Secara historis, Candrasengkala sudah ada sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha di Jawa, meskipun puncaknya terlihat pada era Majapahit dan Mataram Islam. Kata “Candra” berarti bulan atau penanggalan, dan “Sengkala” berarti perhitungan waktu.

Sistem ini tidak berdiri sendiri, tetapi seringkali merupakan bagian dari Kalender Saka. Uniknya, setiap kata yang dipilih memiliki filosofi angka yang tetap dari 1 hingga 0.

Angka 1 biasanya diwakili oleh kata yang bermakna ‘tunggal’ atau ‘satu’, seperti bumi atau matahari. Angka 2 untuk kata-kata yang bermakna ‘ganda’, seperti mata atau tangan. Begitu seterusnya hingga angka 0 yang diwakili oleh kata yang bermakna ‘hilang’ atau ‘kosong’, seperti sirna atau musna.

Aturan membaca Candrasengkala adalah dari belakang ke depan, atau dari kata terakhir ke kata pertama. Jadi, kata terakhir adalah angka satuan, kata di depannya adalah puluhan, dan seterusnya. Ini memberikan nuansa teka-teki yang indah bagi siapa pun yang membacanya.

Prinsip Dasar dan Aturan Membaca Candrasengkala

Candrasengkala dibaca dari belakang ke depan. Artinya, kata terakhir dalam frasa mewakili angka satuan, kata di depannya mewakili angka puluhan, dan seterusnya. Setiap kata dalam frasa tersebut memiliki nilai angka yang tetap, dari 1 hingga 0. Nilai angka ini tidak acak, melainkan didasarkan pada konsep atau filosofi tertentu.

Baca juga:  Terdampar di Solo

Berikut adalah beberapa contoh makna kata dan nilai angkanya:

  • Angka 1: Diwakili oleh kata yang bermakna tunggal, seperti “wujud”, “bumi”, “bulan”, atau “matahari”.
  • Angka 2: Diwakili oleh kata yang bermakna ganda, seperti “mata”, “tangan”, “kembar”, atau “paksa”.
  • Angka 3: Diwakili oleh kata yang bermakna api, seperti “api”, “bahni”, “tiga”, atau “tri”.
  • Angka 4: Diwakili oleh kata yang bermakna air atau makhluk berair, seperti “banyu”, “laut”, “samudra”, atau “pat”.
  • Angka 5: Diwakili oleh kata yang bermakna panah atau panca, seperti “pana”, “jemparing”, “indera”, atau “wisaya”.
  • Angka 6: Diwakili oleh kata yang bermakna rasa, seperti “rasa”, “enam”, atau “sat”.
  • Angka 7: Diwakili oleh kata yang bermakna resi atau gunung, seperti “resi”, “pandhita”, “gunung”, atau “sapta”.
  • Angka 8: Diwakili oleh kata yang bermakna gajah, seperti “gajah”, “hastina”, atau “asta”.
  • Angka 9: Diwakili oleh kata yang bermakna lubang atau dewa, seperti “bolong”, “lawang”, “nawa”, atau “sanga”.
  • Angka 0: Diwakili oleh kata yang bermakna kosong, hilang, atau langit, seperti “musna”, “langit”, “sirna”, atau “awang”.

Contoh Candrasengkala dan Maknanya

Mari kita lihat beberapa contoh untuk lebih memahami sistem ini:

  • “Sirna Ilang Kertaning Bumi” Ini adalah salah satu Candrasengkala yang paling terkenal, menandai keruntuhan Kerajaan Majapahit.
    • Bumi = 1
    • Kertaning = 4 (berasal dari ‘kerta’ yang bermakna ‘keempat’, yaitu Kertayuga)
    • Ilang = 0
    • Sirna = 0 Jika dibaca dari belakang (Bumi-Kertaning-Ilang-Sirna), maka didapat tahun 1400 Saka atau sekitar tahun 1478 Masehi.
  • “Mata Ratu Pinareng Jagad” Ini adalah contoh lain yang memiliki makna filosofis yang berbeda.
    • Jagad = 1 (dari makna ‘dunia’ yang tunggal)
    • Pinareng = 5 (dari makna ‘panah’ atau ‘panca’)
    • Ratu = 1 (dari makna ‘tunggal’)
    • Mata = 2 Jika dibaca dari belakang (Jagad-Pinareng-Ratu-Mata), maka didapat tahun 1512 Saka.
  • “Naga Rasa Warna Tunggal” Candrasengkala ini menandai sebuah peristiwa penting.
    • Tunggal = 1
    • Warna = 4 (dari ‘catur’, yaitu empat)
    • Rasa = 6
    • Naga = 8 (dari makna ‘gajah’ atau ‘asta’) Jika dibaca dari belakang (Tunggal-Warna-Rasa-Naga), maka didapat tahun 1164 Saka.
Baca juga:  Jejak Peradaban Air dalam Nama-nama Tempat di Indonesia

Candrasengkala untuk Kemerdekaan Indonesia

Untuk kemerdekaan Indonesia yang dideklarasikan pada tahun 1945, ada candrasengkala yang populer dan sering digunakan. Namun, perlu diingat bahwa candrasengkala adalah sistem penanggalan yang lebih mengacu pada Kalender Saka, sehingga konversinya ke tahun Masehi seringkali memiliki selisih waktu. Meskipun begitu, makna filosofisnya tetap kuat.

Salah satu candrasengkala yang paling dikenal untuk menandai tahun 1945 adalah:

Marganing Karya Ambuka Bumi

Frasa ini memiliki makna yang dalam, yaitu “jalan berkarya menuju pintu gerbang kejayaan”. Mari kita bedah setiap katanya untuk menemukan angka tahunnya:

  • Bumi = 1 (karena bumi itu tunggal)
  • Ambuka = 9 (dari kata ‘ambuka’, yang berarti ‘membuka’, dikaitkan dengan angka sembilan atau lubang)
  • Karya = 4 (dari ‘karya’ yang merujuk pada empat arah mata angin)
  • Marganing = 5 (dari ‘marga’ yang berarti ‘jalan’, dikaitkan dengan pancaindera atau panca)

Jika dibaca terbalik sesuai aturan candrasengkala, yaitu dari belakang ke depan, maka frasa ini menunjukkan angka tahun 1945.

Candrasengkala adalah bukti kekayaan intelektual dan seni sastra nenek moyang kita. Selain itu, Candrasengkala adalah warisan budaya yang tak hanya indah secara bahasa, tetapi juga menyimpan catatan sejarah yang penting. Memahami sistem ini memungkinkan kita untuk lebih menghargai sejarah, budaya, dan filosofi yang terkandung di dalamnya.

Leave a Comment