Penulis: Zaska
Untuk persiapan fisik sebelum hiking ke gunung, mudah kita mendapatkan informasi tentang jenis latihan dan caranya. Namun tidak demikian halnya dengan persiapan mental. Belakangan saya baru menyadari satu kegiatan yang rupanya turut mendukung ketahanan mental ketika kembali berkegiatan di gunung. Yaitu bersyukur.
Letter E
Kehadiran awan tipis berwarna putih kapas yang cuma sedikit membuat warna biru terlihat mendominasi langit di pagi itu.
Fenomena ini menyadarkan saya untuk mengaktifkan indera.
Langit cerah membuat suasana jadi terang. Membebaskan mentari untuk berbagi kehangatan lewat sentuhan cahayanya. Meski seolah dihalangi oleh desauan angin gunung yang tak henti-henti menggayuti hawa dingin sejak dini hari tadi.
Paduan sensasi tangkapan indera ini membuat saya semakin takjub. Saat melahap sajian kemegahan alam yang indah mempesona. Menghampar dari kedua sisi punggungan hingga nun jauh ke cakrawala.
Saat itu, 29 Juni 2024, saya dan rombongan tengah berada di punggungan yang merupakan lintasan terakhir menuju puncak Rinjani. Lintasan yang juga dikenal dengan sebutan “Letter E“.

Lintasan Letter E panjangnya lebih dari 2 km.
Berawal dari ketinggian 2.950-an mdpl, lintasan ini terus menanjak tanpa putus, hingga ke puncak Rinjani di ketinggian 3.726 mdpl.
Untuk bisa mencapai puncak, kami harus berjalan melintasi medan terbuka yang minim perlindungan alam. Menanjak naik di atas permukaan lintasan berupa pasir dan kerikil yang tidak stabil.
60-an Menit
Saya memperhatikan orang-orang di sekeliling yang sama-sama akan menuju ke puncak.
Tubuh-tubuh mereka terlihat bergerak naik. Kelihatan terus semakin mengecil di kejauhan. Hingga tak tertangkap mata.
Dari pengamatan saya, kebanyakan dari mereka masuk dalam kelompok usia muda. Seperti, antara lain, siswa-siswi sekolah yang hiking bersama saya.
Ditemani oleh beberapa pendamping dan guru, barisan mereka terus bergerak ajeg ke arah puncak.
Saya coba meniru cara mereka. Berjalan menggunakan langkah-langkah cepat. Dengan diselingi istirahat singkat.
Tapi tidak bisa bertahan lama.
Buat saya, memacu otot-otot kaki untuk bergerak naik lebih gesit terasa amat melelahkan dan menguras tenaga. Ditambah lagi dengan jantung yang terus menerus berdegup lebih kencang.
Saya berhenti, sambil melihat rombongan siswa-siswi yang meninggalkan saya semakin jauh. .
Lalu memutuskan untuk menggunakan cara yang sesuai dengan kemampuan dan persediaan tenaga yang masih ada.
Sebisa mungkin cari pijakan yang mantap. Gunakan tenaga seperlunya. Bergerak naik dengan langkah-langkah kecil. Berhenti setiap kali menyelesaikan 10 langkah ganda.
Berhenti setiap 10 langkah ganda dimaksudkan untuk memberi kesempatan otot beristirahat sejenak. Tapi konsekuensinya kemajuan pergerakan jadi lambat.

Saat saya tiba di puncak, rombongan siswa-siswi sedang bersiap-siap untuk turun kembali ke campsite di Pelawangan Sembalun.
Sudah 60-an menit mereka berada di puncak Rinjani.
Bersyukur Sebagai Latihan Mental
Sejak ikut terlibat program adventure di salah satu SMA swasta di Tangerang Selatan, saya mencoba untuk mempraktikkan mindful hiking.
Dalam tahun ajaran 2023 -2024, kami empat kali hiking ke gunung. Dan G. Rinjani adalah gunung keempat atau terakhir

G. Rinjani merupakan gunung keempat yang menjadi ajang buat saya untuk mempraktikkan mindful hiking. Atau sebutan saya untuk mindful walking di gunung.
Dalam praktik mindful walking, kita secara sadar dan sengaja, memberikan perhatian pada kegiatan dan pengalaman saat berjalan kaki.
Dan itu semua dilakukan tanpa tanpa memberikan penilaian atau menghakimi. Tanpa memberikan label “baik” atau “buruk”.
Perhatian pada tiap-tiap langkah, tarikan dan hembusan napas, sensasi yang dirasakan tubuh, serta sensasi lain yang tertangkap oleh indera selama berjalan..
Semua hal ini memberi jalan pada kita untuk menjangkarkan pikiran pada momen saat ini.
Pikiran kita tidak menerawang ke masa depan. Atau kembali ke masa silam. Tapi fokus pada kesadaran di masa sekarang.
Sadar dengan apa yang kita lakukan, rasakan dan alami sekarang.
Nah, jika diibaratkan sebagai tanah, maka kesadaran akan saat sekarang ini adalah tanah subur yang memudahkan tumbuhnya pola pikir bersyukur.
Dengan hadir di momen sekarang, kita menjadi lebih terbuka untuk menyadari hal-hal kecil yang berharga dan layak disyukuri saat kita berjalan.
Karena rasa syukur hanya hadir di momen sekarang. Ia tidak bisa hidup di masa lalu atau masa depan.
Mensyukuri setiap langkah.
Mensyukuri setiap tarikan serta hembusan napas.
Mensyukuri proses dalam tubuh yang membangkitkan energi, sehingga kita bisa bergerak maju.
Secara umum bersyukur bisa dikatakan sebagai aktifitas pikiran, bersamaan dengan perasaan, yang menghargai dan berterima kasih atas hal baik yang diterima. Baik itu berupa hal besar maupun kecil. Bisa muncul dari kesadaran, bahwa ada sesuatu yang baik dalam hidup kita.
Nah, saya mempraktikkan mindful walking sejak sekitar pertengahan 2019.
Tapi baru kira-kira setahun kemudian, saya mulai menyadari dan kemudian membiasakan diri untuk bersyukur saat praktik mindful walking.
Tidak secara terus menerus, tapi selama berjalan minimal satu kali saya melakukannya.
Tanpa saya sadari sebelumnya, kebiasaan bersyukur ketika berjalan di perkotaan ini rupanya telah menjadi semacam latihan persiapan mental dalam empat perjalanan ke gunung. Antara bulan November 2023 – Juni 2024
Berbeda
Saya rasa semua orang sependapat sama, bahwa persiapan dan latihan fisik sebelum hiking ke gunung adalah wajib hukumnya.
Saya pun melakukannya.
Mempersiapkan diri untuk praktik berjalan di gunung dengan mindful.
Bersiap agar mampu konstan menanjak. Mulai dari lintasan di kemiringan lereng yang landai, hingga tanjakan yang memaksa saya untuk menggunakan “gigi satu”.
Meskipun sudah didahului latihan, berjalan kaki di gunung, sambil gendong ransel di punggung, selalu saja terasa menguras tenaga dan melelahkan buat saya. Selalu bikin otot pegal dan badan capek.
Namun berbeda dengan gunung-gunung sebelumnya, ketika menanjak ke puncak Rinjani lewat Letter E, yang terasa bukan hanya capek fisik.
Selain fisik yang terasa terus menerus digenjot, di sini ketahanan mental pun ikut-ikutan digerogoti.
Lintasan berupa permukaan pasir dan kerikil yang gembur membuat kaki sulit mendapatkan pijakan yang mapan saat melangkah naik. Sehingga merepotkan pergerakan.
Ditambah lagi dengan kondisi medan yang terbuka. Plus cuaca pagi yang cerah
Kondisi ini membuat saya bisa melihat keseluruhan lintasan, hingga puncak yang menjadi tujuan. Termasuk orang-orang yang sudah mendekati puncak., yang terlihat sebagai bentuk-bentuk yang amat kecil.
Penampakan bentuk-bentuk ini terasa mengecilkan semangat. Karena memunculkan bayangan masih jauhnya sisa jarak yang harus saya tempuh.

Ayo, semangat !
Siap !
Saya terus bergerak naik
Namun hati kok masih belum plong. Masih terasa ada yang terus mengganjal.
Melangkah dengan Tulus
Pasir yang merosot setiap kali dipijak, membuat upaya untuk menambah ketinggian harus dilakukan dengan jumlah langkah yang lebih banyak. Sehingga terasa lebih menguras tenaga.
Tak heran ada orang yang menggambarkan pengalaman merayapi tanjakan Letter E dengan frasa “Naik 2 langkah, turun 1 langkah”.
Jadi pergerakan naik ke arah puncak ini tidak hanya bikin badan capek. Tapi juga sekaligus bikin hati kesal.
Dan lama kelamaan terasa semakin mengendorkan semangat.
Seperti mengayuh kano dengan telapak tangan terbuka. Kayuhan tangannya banyak, tapi majunya cuma sedikit.
Nah, di sini saya merasakan dampak.dari kombinasi praktik mindfulness dan kebiasaan bersyukur
Mindfulness mengajarkan kita untuk tidak menghakimi apa yang melintas dalam pikiran, perasaan dan sensasi yang dialami di momen sekarang. Baik yang sesuai dengan harapan, maupun yang tidak.
Hal ini memberi jeda untuk tidak langsung reaktif terhadap perasaan yang timbul. Sekaligus memberi peluang untuk mengaktifkan praktik bersyukur
“Tenaga rasanya udah mentok banget, Tapi kok nggak nyampe-nyampe, ya?”
Alih-alih terbawa oleh rasa kecewa, mindfulness seolah memberi kita jeda untuk menemukan hal, sekecil apapun, yang bisa disyukuri di momen sekarang.
Apa hal yang positif yang masih ada. Apa yang bisa dikendalikan. Apa kesempatan yang bisa dimanfaatkan.
Celotehan dalam dialog dengan diri sendiri, atau self talk, pun kemudian seperti terdengar memberi semangat dalam pikiran.
“Syukuri aja. Biar pelan tapi kan masih bisa maju dikit-dikit. Kalo capek, brenti aja, nikmatin pemandangan. Lagipula kapan lagi bisa nanjak di sini. Anggap aja ini latihan fisik buat naik gunung.”

Rasa syukur tidak membuat saya jadi lebih bertenaga.
Apalagi menjadikan saya perkasa, setangguh porter Rinjani yang bersandal jepit ngebut naik-turun gunung, dengan 50-an kg beban di pikulan mereka.
Saya tetap berjalan pelan tertatih. Diselingi rehat yang amat kerap.
Rencana semula, istirahat setiap 10 langkah ganda. Tapi seringkali baru 3 – 4 langkah, kaki sudah minta jatah rehat.
Dan selama berjalan, rasa lelah dan rasa tidak nyaman pun terus setia menggayut.
Tapi rasa syukur menumbuhkan perasaan tulus untuk terus nanjak.
Selangkah demi selangkah.
Merasakan setiap langkah maju sebagai keberhasilan yang patut disyukuri.
Hingga akhirnya kaki bisa menjejak puncak.
Alhamdulillah. Puji syukur.
Ah, rasanya sekarang saya bisa lebih memahami kata-kata dari Michael D’Aulerio, seorang pelari ultramarathon dari Amerika Serikat yang juga seorang pengarang buku.
Kata-kata ini saya ambil dari akun Instagram-nya https://www.instagram.com/longrunliving/
Dan saya coba terjemahkan secara bebas.
“Kalau kamu bisa bersyukur, kamu nggak akan mudah merasa down. Dalam olahraga yang bikin capek dan nggak nyaman, rasa syukur bisa bikin kamu kuat untuk terus jalan.”
