Catatan dari Perjalanan Ke Reuni Kecil

Penulis: Zaska

Akhirnya kami jadi merealisasikan reuni di Jogja. Satu reuni kecil dan singkat. Satu kesempatan untuk membincangkan pengalaman bersama 50-an tahun silam. Bersama 3 rekan lain, saya berangkat dari Bandung dengan menggunakan kereta api. Tanpa sengaja perjalanan ini telah mengingatkan saya tentang pentingnya percakapan dengan diri sendiri, atau self talk, yang positif.

Tidur

Lewat obrolan daring di grup WA, kami sepakat menetapkan tanggal 24 – 26 Juli sebagai tanggal reuni di Jogja.

Palem Kipas Homestay, yang juga merupakan tempat tinggal Djodi dan istrinya Melly, menjadi Basecamp kami selama di Jogja.

Kami pun meng-agenda-kan beberapa kegiatan pengisi reuni. Kegiatan yang dilandasi oleh satu keinginan. Yaitu “asal bisa kumpul bareng”.

Peserta reuni dari luar Jogja ada 4 orang: Maman dan istrinya Made, Kunce dan saya.

Kami sepakat untuk bersama-sama berangkat dari Bandung pada tanggal 23 Juli, dengan menggunakan kereta api.

Memang ada beberapa alternatif KA ke Jogja. Tapi karena Kunce masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, maka kami tidak punya pilihan selain menggunakan KA Kahuripan kelas Ekonomi. Agar bisa tiba di Jogja sepagi mungkin keesokan harinya.

Ketepatan waktu dan kebersihan memang sudah menjadi standar layanan PT Kereta Api Indonesia saat ini. Namun dengan harga tiket Rp. 64 ribu setelah diskon tentu saja ada ‘konsekuensi’ terkait dengan kenyamanan.

“Zas, bener nih udah siap naik KA Ekonomi Kahuripan?” Kata Maman.

Inget, 8 jam, lho !”

“Sandaran duduknya tegak. Nggak bisa distel untuk direbahkan kebelakang. Kaki juga nggak bisa seenaknya diselonjorkan. Karena nanti kita akan duduk saling berhadapan dengan penumpang lain,” lanjutnya.

blank
Tempat duduk KA Ekonomi. Kaki hanya bisa diselonjorkan, bila tidak ada penumpang yang duduk dihadapan.

Saya bisa membayangkan kondisi tempat duduk yang dikatakan Maman. Karena saya pernah 2 kali menggunakan KA kelas Ekonomi dengan rute Jakarta – Bandung.

Tapi pada kedua kesempatan itu saya berpergian di siang hari. Dan waktu tempuh “hanya” 3 jam 50 menit. Sehingga tidur tidak menjadi prioritas utama.

Berbeda dengan perjalanan menggunakan kereta api malam.

Ketika kita tidak bisa melihat apa-apa ke luar jendela. Hanya melihat kegelapan. Dan waktu perjalanan juga bersamaan dengan jam tidur. Maka tak heran jika tidur menjadi pilihan favorit penumpang kereta api malam.

“Dengan tempat duduk yang kurang ergonomis, nanti di kereta kira-kira bisa duduk dan tidur enak nggak, ya?”

Ah, buru-buru saya menepis bayangan ketidaknyamanan yang mungkin akan dialami selama perjalanan malam menuju Jogja.

Baca juga:  Halal Bihalal Ala Gank Sebul 73

Mulai jam 22:20, hingga jam 06:23 keesokan harinya.

Untung Saling Kenal

Sekitar jam 21 kami tiba di stasiun Kiaracondong. Langsung menuju rangkaian gerbong KA Kahuripan yang sudah menunggu di sisi peron.

Kami masuk ke gerbong yang paling belakang. Lalu mencari tempat duduk sesuai nomor yang tertera pada tiket.

Tempat duduk dalam gerbong diatur menjadi deretan kursi untuk dua dan tiga orang. Dan masing-masing saling berhadapan. Jadi ada yang duduk menghadap ke arah tujuan, ada yang membelakangi.

blank
Warna biru adalah tempat duduk kami berempat

Kami berempat menempati tempat duduk di kursi deretan 2 orang yang saling berhadapan.

Mendekati jam keberangkatan, tempat duduk yang sebelumnya kosong hampir seluruhnya terisi. Begitu pula dengan rak penyimpanan barang yang menempel di dinding gerbong, di atas tempat duduk.

Selain penuh, rak juga tidak bisa menampung kopor berukuran besar, sehingga beberapa kopor besar terpaksa ditaruh di tempat kosong, di ujung gerbong.

Baru kemudian saya menyadari, bahwa formasi tempat duduk kami berempat punya kelebihan. Yaitu memudahkan penyimpanan dan pengawasan barang bawaan di rak.

Dan untung kita juga saling kenal. Jadi pengaturan posisi kaki selama perjalanan pun bisa lebih bebas dan fleksibel.

Proses

Sesuai dengan yang tertera di tiket, jam 22:20.KA Kahuripan mulai bergerak meninggalkan stasiun Kiaracondong, Bandung.

Salah satu hal yang menjadi ciri KA kelas Ekonomi adalah kekerapan berhenti.

KA kelas Ekonomi lebih sering berhenti dibandingkan dengan kelas-kelas di atasnya. Baik berhenti di stasiun untuk menaik-turunkan penumpang. Maupun berhenti untuk memberikan kesempatan kereta lain untuk mendahului. Atau mendahulukan kereta lain saat berpapasan.

Selain kecepatannya, hal itu tampaknya juga mempengaruhi waktu tempuh KA Kahuripan Bandung – Jogja menjadi 8 jam.

Saya teringat satu artikel tentang perlunya fokus pada proses dalam menjalankan suatu bisnis.

Di sana dikatakan, bahwa salah satu penyebab kegagalan bisnis rintisan atau startup adalah karena si pelaku bisnis tidak tahan banting ketika menjalani proses untuk meraih tujuannya.

Lho, apa hubungannya bisnis startup dengan perjalanan ke Jogja?

Tujuan kami sudah bisa dipastikan akan tercapai. Dengan waktu tempuh yang juga sudah ditentukan.

Jadi, apalagi yang perlu dirisaukan?

Bagi saya masih ada hal yang butuh perhatian.

Saya perlu fokus pada bagaimana akan menjalani proses untuk mencapai tujuan.

Fokus pada apa yang perlu dilakukan, agar bisa “tahan banting” menghadapi perjalanan sepanjang malam.

Baca juga:  Jumat Berkah

Fokus pada bagaimana saya bisa senyaman mungkin beradaptasi dengan fasilitas yang tersedia di gerbong kelas Ekonomi. Hingga tiba di Jogja.

Syukuri Apa Adanya

Upaya saya untuk fokus pada proses, secara tak langsung, ternyata “didukung” oleh pengaturan tempat duduk dalam gerbong yang menghadirkan suasana komunal dengan privasi yang minim.

Dengan lampu penerangan gerbong yang terus benderang di sepanjang perjalanan, saya jadi bisa mengamati perilaku penumpang lain yang sama-sama “senasib”.

Dan menjadikannya sebagai acuan tentang apa yang sebaiknya saya lakukan dan tidak saya lakukan. Agar bisa tenteram melewati malam hingga pagi.

Ada satu hal yang biasa saya lakukan di KA, tapi tidak bisa dilakukan di sini.

Dalam perjalanan panjang, biasanya saya suka berjalan menyusuri lorong gerbong. Berpindah dari satu gerbong ke gerbong lainnya. Sekadar untuk mengurai otot-otot yang tersandera ketika duduk.

Kali ini saya hanya meninggalkan tempat duduk untuk berjalan ke toilet.

Itupun harus dilakukan dengan ekstra hati-hati. Ketika melangkahi kaki-kaki yang melintang di lorong.

blank

Setelah perjalanan berlangsung 60-an menit, saya memutuskan untuk berhenti memantau jalannya perjalanan. Termasuk mengabaikan stasiun-stasiun yang dilewati. Dan berhenti menghitung waktu tempuh yang tersisa.

Hal ini membantu saya untuk bisa “hadir” di saat sekarang. Dan bisa lebih peka memperhatikan apa yang dialami. Baik di dalam diri, maupun di lingkungan sekitar.

Dengan lebih seksama saya mengamati penumpang yang ada di gerbong.

Saya amati ekspresi dan bahasa tubuh mereka.

Meski terlihat lelah, tapi tidak tampak tanda-tanda bahwa mereka kesal.

blank

Dan sepanjang perjalanan tak pernah saya pun mendengar kata-kata atau ungkapan keluhan yang keluar dari mulut mereka.

Perilaku mereka seakan menggambarkan potongan lirik lagu dari d’Masiv: “Syukuri apa adanya.”

Self Talk

Perilaku penumpang ini mengingatkan saya pada kata-kata Maman beberapa hari sebelum keberangkatan. Ketika Maman sudah membeli tiket KA Kahuripan.

Udah nikmatin aja. Kapan lagi punya kesempatan ngerasain 8 jam naik KA kelas Ekonomi?”

Lalu terlintas dalam pikiran.

Mengapa tidak saya gunakan kata-kata itu untuk membangun narasi positif lewat percakapan dengan diri sendiri atau self-talk.

Entah bagaimana persisnya self talk ini bekerja dalam otak.

Tapi self talk positif ini tampaknya membantu saya jadi lebih proaktif untuk mengisi sisa perjalanan dengan kegiatan-kegiatan yang bisa saya lakukan. Dengan apa yang ada pada saya, dan berada dalam kendali saya

Baca juga:  Miracle: Jarum Kasur

Juga terasa ada semacam pengingat untuk berupaya menerima apapun hasilnya dengan pikiran terbuka dan rasa ikhlas.

Kegiatan saya malam itu tak banyak beda dengan apa yang biasa dilakukan penumpang pada umumnya.

Saya kadang mengobrol dengan Kunce, Maman atau Made.

Beberapa kali saya mencoba tidur, walau tak bisa nyenyak.

Saya memakan bekal yang kami bawa.

Oh, ya. Di KA Kahuripan tidak ada petugas restorasi yang berkeliling menawarkan makanan.

Tapi kami beruntung. Karena Kunce membawa dua kantung lontong isi buatan istrinya. Orang kadang menyebutnya “Arem-arem”. Atau “Leupeut” kalau dalam Bahasa Sunda.

Buat saya leupeut ini jadi kudapan yang amat pas untuk membungkam lapar yang seringkali hadir. Terutama kala tak bisa tidur.

Tanpa target tertentu, sesekali saya juga lakukan olah napas.

Setelah terang tanah, perjalanan terasa mejadi lebih cepat.

Beberapa saat sebelum tiba di stasiun Lempuyangan, terdengar pengumuman untuk penumpang dengan tujuan akhir Jogja agar bersiap-siap untuk turun.

Kami menurunkan barang-barang dari rak penyimpanan.

Setelah KA benar-benar berhenti, pada jam 06:25 kami turun di stasiun Lempuyangan.

Sebelum keluar dari stasiun saya memesan taksi online untuk mengantar kami ke tempat kumpul di Palem Kipas.

Saat menunggu respon dari pengemudi taksi, sempat terlintas dalam pikiran tentang self talk positif yang terasa telah membantu saya mengisi perjalanan dengan berbagai kegiatan yang saya lakukan dengan lapang dada.

Sehingga menjadikan perjalanan KA Bandung – Jogja sebagai suatu pengalaman yang positif.

Tapi sebuah pertanyaan datang menyusul.

Apakah self talk positif semacam ini bisa lebih sering dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari?

Bisa nggak, ya?

Belum sempat memikirkan jawabannya, di layar ponsel saya muncul pesan dari pengemudi taksi. isinya meminta kami agar menuju ke satu tempat di luar area stasiun.

Leave a Comment