Dalam Keterbatasan Kutaklukkan Gunung Gede

Penulis: Yanto

Bagi orang biasa, ini kisah yang tidak perlu diceriterakan.

Bagiku, ini kisah yang tak pernah kulupakan seumur hidup.

Ini adalah kisah yang memberi banyak pelajaran tentang persahabatan, kehidupan yang harus kita perjuangkan, dan bersyukur bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik kepada hamba-Nya.

Kisah ini dimulai ketika tulang keting kaki kiri patah terinjak teman saat bermain petak lari jongkok. Proses penyembuhan di RSCM butuh waktu lama dan dilanjutkan dengan operasi di RS Cikini.

Akibat kejadian tersebut, saya berbaring beberapa bulan di Rumah Sakit dan akhirnya harus belajar jalan menggunakan tongkat. Sungguh menyakitkan untuk anak seusia SD kelas empat.

Saya mulai suka naik gunung berawal dari kesukaan saya berkemah saat SMP di halaman rumah Eri, teman sekolah sejak SD Van Lith. Dia tinggal di Jalan Gunung Sahari yang luas halamannya. ‎Selain itu bapak juga sering mengajak jalan kaki di sekitar Maribaya dan Ciater juga Kebun Raya Cibodas sampai ke air terjun Cibeureum. 

Setelah SMA, saya yang menyukai alam sering berkemah dengan teman-teman SMA 4 antara lain Djoko Susetyo, alm. Roseno dan Todung di kawasan Puncak Pass. Kadang kami naik bukit di dekat parkiran Puncak Pass, belakang warung sate yg bukitnya masih asri, lalu turun di Telaga Warna.

Kami terus berjalan menuju Pastoran di sekitar Cimacan untuk membeli susu murni, tapi malah diberi susu gratis.

Pendakian Pertama 

Entah apa yang merasuki pikiran saya waktu itu. Saya punya keinginan kuat untuk mendaki Gunung Gede. Saya ajak Bowo teman sejak SD dan Asril, kami sepakat untuk coba menaklukkan Gunung Gede.

Kami berangkat dari Jakarta Sabtu siang sepulang sekolah. Intermezzo sedikit, saat berjalan di tepi istana Bogor (Kebun Raya Bogor), kami bertemu pak Arif Rachman yang waktu itu sering muncul mengajar bahasa Inggris di TVRI.

Baca juga:  Gigi Balang

Singkat cerita, kami tiba di Cibodas – istirahat di sebuah warung lalu lanjut mendaki menjelang Magrib. Malam harinya kami sampai di Kandang Batu lalu mendirikan tenda untuk bermalam.

blank
karena kelelahan parah, dalam perjalanan turun saya digendong bergantian oleh rekan-rekan seperjalanan (dokpri)

Keesokan paginya, Bowo melanjutkan pendakian ke puncak, sementara Asril dan saya menunggu di Kandang Batu. Setelah Bowo kembali dari puncak, kami turun kembali ke Cibodas.

Saya cukup puas waktu itu walau belum sampai ke puncak.

Pendakian kedua ke Gunung yang sama saya lakukan bersama rombongan SMA 4 yang dipimpin kakak-kakak angkatan, antara lain Unggul, Iping, Tarto, Tito, Osy, dan Horas. Pendakian dilakukan di 29 dan 30 Juli 1972.

Seingat saya, kami tiba di Cibodas – berkumpul di warung pak Kardi untuk makan dan belanja perbekalan. Malam harinya kami tiba di Kandang Badak – di rumah singgah yang sudah rusak parah.

Rusaknya rumah tersebut bukan hal penting kami, yang penting adalah kami bisa beristirahat, makan malam, dan tidur seadanya.

Pagi usai sarapan, rombongan mendaki ke puncak Gunung Gede. Saya ikut naik ke puncak dan berhasil!

‎Setelah puas menikmati puncak Gunung Gede, rombongan turun kembali ke Cibodas tanpa ngaso di Kandang Badak. Kami beristirahat di Kandang Batu.

Saat itu karena kelelahan parah, saya terpaksa digendong oleh Iping, Horas, dan Bowo bergantian sampai di simpang air terjun Cibeureum. ‎Setelah sedikit kuat saya melanjutkan berjalan kaki sampai ke sebuah warung di Cibodas dan berhasil pulang ke rumah dengan selamat.

Keterbatasan Bukan Halangan 

Singkat kata, dengan kaki kiri yang cacat bukanlah menjadi halangan untuk mendaki gunung. Saya mampu berjalan kaki jauh dan mendaki gunung setiap ada kesempatan. Banyak teman-teman yang heran dengan kemampuan saya bahkan saya kadang dianggap nekat.

Baca juga:  Penyanyi Legendaris Djoko Soesilo, Tertembak di Tahun 1967

Banyak pengalaman mengharukan selama pendakian saya. Entah berapa kali saya menggigil kedinginan di ketinggian, namun tak mengendurkan semangat untuk sampai ke puncak – tentu dengan dorongan teman-teman  seperjalanan yang selalu memberikan semangat.

Semasa SMA banyak kisah menyedihkan dan membanggakan saat jadi pendaki gunung. Bangga apabila berhasil sampai di puncak dan pulang dengan selamat. Sedih apabila mendengar kabar ada pendaki yang meninggal dunia.

Semasa kuliah di Bandung, saya masih melakukan kegiatan antara lain jalan kaki dari Lembang ke Maribaya dan Ciater, juga Jayagiri dan Tangkuban Parahu bersama teman-teman ITB.

Beberapa kali saya ngikut rombongan MAPALA UI merayakan hari Kemerdekaan RI di puncak Gunung Gede 1975 dan Pangrango 1976.

Bersama BUCI ikut dua kali pelantikan anggota baru di Gunung Wayang 1978 dan 1980.

Terakhir kalinya saya naik Gunung Gede tahun 1981 untuk membantu komunikasi dari ORARI Jabar dalam kegiatan SAR GURILA selama 3 hari di pos Kandang Batu dan Cibeureum dalam rangka mencari pendaki yang hilang.

Setelah sekitar satu bulan operasi SAR dilakukan dengan menyisir area Gunung Gede, Pangrango, bahkan sampai Sukabumi, akhirnya dua orang pendaki ditemukan sudah meninggal oleh pencari kayu. Jenazah ditemukan di sekitar Kandang Badak, tidak jauh dari tandon air dekat rumah singgah.

Itulah pengalaman saya mendaki gunung.

Saya bersyukur diberi kekuatan dan kesehatan oleh Allah SWT. Praise be to Allah.

Where there’s a will, there’s a way, itu kata orang Inggris. Memang benar, di mana ada kemauan, di situ ada jalan.

Kisah ini memberi motivasi bagi siapapun yang merasa punya kekurangan. Banyak yang telah membuktikan, kekurangan bukan penghalang untuk meraih prestasi. Semoga kisah di atas bisa menjadi inspirasi bagi kita dan generasi muda untuk tidak menyerah.

Baca juga:  Menyusuri Dunia Tanpa Cahaya

Jadikan kekurangan sebagai nilai tambah – untuk meraih kehidupan yang lebih baik.

Leave a Comment