Mencegah Demensia dengan Angklung

Penulis: Elly Muchtar – Pemerhati Angklung

Salah satu cara meningkatkan kualitas hidup bagi warga senior adalah bermain angklung. Angklung memang tidak bisa dimainkan sendirian, oleh karena itu selain menyalurkan hobi berkesenian juga ‘gaul’ bersama komunitas dari berbagai usia dan profesi dalam frekuensi yang sama.

Angklung merupakan alat musik multitonal (bernada ganda) yang berkembang dari masyarakat Sunda. Alat musik ini terbuat dari bambu, di bunyikan dengan cara digoyang-goyangkan. Bunyinya berasal dari benturan badan pipa bambu, sehingga menghasilkan susunan 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil.

Alat Musik Warisan Budaya

Dictionary of the Sunda Language karya Jonathan Rigg, yang diterbitkan pada tahun 1862 di Batavia, menuliskan bahwa angklung adalah alat musik yang terbuat dari pipa-pipa bambu yang dipotong ujung-ujungnya menyerupai pipa-pipa dalam suatu organ, dan diikat bersama dalam suatu bingkai, digetarkan untuk menghasilkan bunyi.

Angklung terdaftar sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Non Bendawi Manusia dari UNESCO sejak November 2010.  Alat musik tradisional ini terbuat dari tabung-tabung bambu. Jenis bambu yang biasa digunakan sebagai bahan alat musik tersebut adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu putih (awi temen).

pertunjukan angklung (foto: elly muchtar)
pertunjukan angklung (foto: elly muchtar)

Sejarahnya, pada tahun 1938 Daeng Soetigna menciptakan angklung dengan tangga nada diatonis.  Angklung hasil inovasi Daeng Sutigna berbeda dengan angklung pada umumnya yang berdasarkan tangga nada tradisional pelog atau salendro. Inovasi inilah yang membuat angklung bisa dimainkan harmonis bersama dengan alat-alat musik Barat, bahkan bisa disajikan dalam bentuk orkestra.

Udjo Ngalagena, murid Daeng Soetigna meneruskan usaha Sang Guru mempopulerkan angklung temuannya dengan mendirikan “Saung Angklung” di daerah Bandung, Jawa Barat. Kemudian, tempat itu dikenal sebagai “Saung Angklung Udjo” yang menjadi pusat kreativitas alat musik angklung.

Baca juga:  Warga Senior, Yuk Tekuni Lagi Hobi Kita!

Angklung dimainkan dengan cara digoyangkan atau digetarkan. Tangan kiri bertugas menggantung angklung, sedangkan tangan kanan bertugas membunyikan angklung.

Manfaat bermain angklung bagi warga senior

Bermain angklung pada warga senior memiliki banyak manfaat, di antaranya meningkatkan daya ingat dan fokus, merangsang fungsi motorik dan kognitif, serta membantu mengurangi rasa kesepian dan meningkatkan kebahagiaan. 

Berikut adalah penjelasan lebih rinci tentang manfaat bermain angklung bagi lansia: 

  1. Meningkatkan Daya Ingat dan Fokus. Bermain angklung mengharuskan pemain untuk mengingat dan mengenali nada-nada tertentu, yang dapat membantu melatih daya ingat dan meningkatkan fokus.
  2. Merangsang Fungsi Motorik dan Kognitif. Gerakan memainkan angklung, seperti menggoyangkan atau mengetuk, merangsang fungsi motorik halus dan kasar. Selain itu, bermain angklung juga menstimulasi fungsi kognitif karena pemain harus fokus pada nada dan irama.
  3. Menurunkan Rasa Kesepian. Bermain angklung dalam kelompok dapat membantu warga senior untuk berinteraksi dengan orang lain, yang dapat mengurangi rasa kesepian dan meningkatkan rasa sosial.
  4. Meningkatkan Kebahagiaan.Bermain musik, termasuk angklung, dapat menjadi sumber kebahagiaan dan kegembiraan bagi warga senior.
  5. Melatih Koordinasi Gerak Tubuh.Bermain angklung juga melatih koordinasi gerak tubuh saat mengikuti irama musik.
  6. Menyalurkan Emosi dan Ekspresi.Angklung dapat menjadi sarana penyaluran emosi dan ekspresi kebahagiaan dalam bermain musik. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa bermain angklung dapat menjadi terapi yang efektif untuk meningkatkan kualitas hidup warga senior, terutama dalam hal kesehatan mental dan sosial.

Nah teman sesama warga senior, yuk kita bermain angklung bikin kita happy dan menambah imunitas…..

Leave a Comment