Warga Senior pasti ada yang mengalami, memainkan atau sekedar ikut hura-hura ketika meriam bambu ini disulut saat menjelang Idul Fitri, Tahun Baru atau 17 Agustusan. Sungguh suatu kenangan yang tak terlupakan.
Permainan tradisional ini biasa dimainkan oleh anak laki-laki atau pun orang dewasa karena harus dilakukan dengan hati-hati. Di Gorontalo, permainan ini dikenal dengan nama Bunggo, di Banyuwangi dinamakan Long, di Jawa Barat dikenal Bledugan, orang Jambi menyebutnya Bedil Bambu. Tiap daerah memberi nama yang berbeda, namun peralatannya tetap sama. Yakni bambu yang diberi lubang kemudian diisi dengan air, karbit (kalsium karbida) dan garam atau minyak tanah.
Permainan ini harus dilakukan ditempat terbuka, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Layaknya Meriam sungguhan, Meriam bambu ini juga disulut dengan api, sehingga menimbulkan suara dentuman seperti bom, yang memekakkan telinga.
Sensasi permainan ini terletak pada bunyi yang menggelegar dan sorakan para penonton yang terkejut, tapi senang. Kadang penonton kecewa apabila meriamnya tidak mengeluarkan suara. Apabila permainan ini dipertandingkan, pemenangnya adalah yang bisa menghasilkan dentuman yang paling keras.
Meriam bambu yang saat ini jarang ditemui mungkin karena sulit mendapatkan bambu berukuran besar. Untuk membuatnya perlu pohon bambu yang sudah tua dengan diameter 10 – 15 cm, tambah besar diameternya akan menghasilkan suara yang lebih mengelegar. Bambu dipotong sepanjang 1-1.5 meter atau mempunyai 3-4 ruas. Bagian ruas dilubangi dengan linggis kecuali bagian pangkal. Bagian ini nantinya akan diberi lubang seukuran ibu jari sebagai tempat untuk menyulut meriam bambu. Saat menyulut harus dilakukan dengan hati-hati. Kadang bambunya tidak kuat menahan panas dan meledak. Yang pasti permainan tradisional ini mengajarkan kebersamaan, keberanian dan kreatifitas karena permainan ini dibuat sendiri dengan peralatan seadanya. Namun bisa membuat penonton bahagia dengan bersorak bersama-sama.

