Miracle: Datangnya Taksi Misterius

Kadang kita terpana dengan kejadian-kejadian kecil yang tidak terlupakan dalam hidup. Kisah ini membuktikan, Allah selalu ada dan sangat menyayangi umatNya.  

Di Bulan Puasa, seperti saat ini, saya sering bertemu dengan serendipity– peristiwa kebetulan yang tidak disengaja tetapi menyenangkan. Kejadiannya terjadi waktu saya masih aktif bekerja di sebuah badan internasional, berkedudukan di Jalan MH Thamrin.

Sudah menjelang bubar kantor, tetapi hujan masih deras, tidak berhenti-henti sejak siang hari. Lalu lintas di sekitar sudah sangat padat. Diperkirakan daerah kantor kami akan mengalami banjir. Genangan air semata kaki sudah terlihat di jalanan. Kendaraan umum seperti taxi sudah enggan lewat di sekitar kantor. Pun, tidak ada taxi yang mau menerima panggilan. Sepertinya harus jalan kaki, menjauhi kantor dulu, sampai di daerah yang aman banjir, baru panggil taxi terus melanjutkan perjalanan ke rumah di Cikunir Bekasi. Begitu rencananya.  

Walking gear disiapkan. Memastikan pakaian dan sepatu nyaman untuk jalan jarak 2 hingga 4 kilometer di tengah hujan. Air minum disiapkan berjaga sampai magrib untuk membatalkan puasa.  Perjalanan menerjang macetnya lalu lintas dan genangan air semata kaki dimulai dari depan Sarinah Thamrin. Berjalan sampai daerah Dukuh Atas di usia setengah abad lebih ini dilakukan dengan lumayan bersemangat. Belum nampak taxi juga.

Perjalanan dengan berjalan kaki dilanjutkan sampai di Setiabudi. Masih sanggup walau agak ketar-ketir karena hujan belum reda dan hari semakin sore mendekati magrib. Sementara taxi tidak juga kelihatan. Kalaupun ada mereka tidak mau melewati jalur Thamrin – Sudirman yang padat hampir tidak bergerak itu. Diputuskan untuk tidak lanjut berjalan kaki. Beruntung menemukan gojek yang bersedia mengantar sampai ke simpang susun Semanggi. Hujan semakin deras ketika sampai di pertokoan Semanggi. Cepat-cepat mengantri di jalur taxi yang sudah panjang oleh calon penumpang.  

Baca juga:  Penyanyi Legendaris Djoko Soesilo, Tertembak di Tahun 1967

Adzan maghrib berkumandang. Berbuka dengan air mineral 600 ml yang sudah disiapkan. Tidak sempat membeli makanan berbuka karena tidak mau keluar dari jalur antrian taxi. Tidak banyak taxi yang datang menurunkan dan menaikkan penumpang. Sehingga waktu tunggu lama sekali, sekitar 15 menit untuk kedatangan satu taxi.  Beberapa kali menghitung calon penumpang yang berada di antrian di depan saya dan mengkalkulasi kira-kira harus berapa jam menunggu sampai dapat giliran.  

Saya berusaha kuat dan sabar di tengah menahan rasa lelah, lapar dan dingin.  Suara adzan Isya sudah lama berlalu. Dalam penantian yang tidak jelas kesudahannya ini saya pun berdoa seperti ketika SD dulu, sederhana dan polos namun dengan tingkat kesungguhan yang tinggi. Mohon agar Allah mendatangkan taxi setelah dibacakan Al-Fatihah dan menghitung sampai 10.

Lo and behold! Tepat di akhir hitungan ke 10, di hadapan saya muncul taxi Bluebird, kendaraan roda-empat terindah yang pernah saya lihat dalam hidup ini.

Setelah sadar dari ketakjuban akan jawaban langsung Allah ini, saya cepat-cepat masuk taxi dan menyapa sang pengemudi. “Bapak malaikat ya?” tanya saya pada sang pengemudi, “Saya sudah mengantri menunggu taxi lebih dari dua jam loh”, lanjut saya. Bapak pengemudi tertawa kecil sambil bercerita soal keheranannya baru saja, karena merasa seperti ada yang mengarahkannya menuju pertokoan di Semanggi, padahal dia berencana untuk beristirahat sebentar di luar pertokoan sambil menunggu redanya hujan dan kemacetan.  

Singkat cerita, sampailah saya di depan rumah setelah perjalanan empat jam lebih dari kantor. Saya memberi salam takzim, membayar ongkos taxi sambil mencuri pandang ke arah wajah pengemudi.  Terlihat wajahnya yang bersih dan lucu dengan senyumannya yang sejuk dan damai. Saya makin yakin bahwa bapak pengemudi taxi itu benar sosok malaikat yang Allah kirimkan di satu hari itu di bulan serendipityRamadhan.

Baca juga:  Miracle: Setetes Embun

Leave a Comment