Terdampar di Solo

Tiap orang pasti memiliki cerita unik yang akan diingat selamanya. Cerita masa kecil atau cerita pengalaman lucu yang pernah dialami. Apakah itu ceritera yang berkesan, membanggakan bahkan memalukan, semua akan terekam dalam memori yang kemudian akan menjadi kenangan indah. Di bawah ini, salah satu kisah tak terlupakan, yang terjadi di tahun lalu.

Saat itu saya mendapat tugas kunjungan kerja ke Jogya. Sebagian rekan pergi dengan menggunakan pesawat dan mobil dari Jakarta, Pekalongan dan Solo. Saya memilih naik KA malam jurusan Bandung – Solo.

Sebetulnya agak ragu, karena bepergian sendiri dan akan tiba di kota tujuan pada pukul 3 pagi, bukan pilihan yang dianjurkan bagi saya yang sudah masuk kategori Warga Senior. Tapi tidak apa-apalah. Nanti bisa menunggu di mushola, setelah tahajud sekalian menunggu sholat subuh. Menurut pengamatan saya selama ini, hampir semua mushola di stasiun KA terawat dengan baik, bersih dan wangi. Begitu bayangan saya. Lepas subuh ada mobil yang akan menjemput. Aman !

Perjalanan dengan KA selalu menjadi momen yang menyenangkan, suara KA yang khas, temperatur di dalam KA yang dingin, membawa suasana hati masuk dalam frekwensi bahagia dan menenangkan. Ditemani teh panas manis, buku dan selimut yang wangi. Lengkaplah momen menyenangkan ini. Asal kita mau dan menerima keadaan, akan mudah untuk menjadi bahagia.

Tiba-tiba, ada yang membangunkan saya dengan perlahan. “ Ibu..ibu..Ibu mau turun dimana?” Kaget saya.. “turun Jogya mas”

“Lho…Jogya sudah jauh terlewat bu, tadi berhenti lama di Jogya!”

Kaget, bercampur bingung karena mendadak terbangun dari tidur yang sangat nyenyak. Dengan gelagapan saya bertanya, ” Wah saya harus gimana ya mas?”

Baca juga:  Bersyukur untuk Lengkapi Ketahanan Fisik di Gunung

“ Gak apa-apa ibu, mari saya antar ke gerbong lain. Mana barang-barang2 ibu? Mari saya bawakan…”

Berjalanlah saya dibelakang petugas yang berpakaian necis, membawa koper saya dengan senyuman yang membuat hati tenang. Ternyata jauh juga, beberapa gerbong kami lewati hingga sampai di restorasi. Saya dipersilakan duduk dan ditawari minum. Kemudian diberi pertanyaan nama dan kota yang saya tuju, KTP dan tiket juga diperiksa.

Dalam hati saya bergumam, tuh kan… kalau sudah berumur dan traveling sendirian, harusnya naik jam yang aman sampai kota tujuannya dan tidak di jam yang kira-kira kita bakal tertidur.

Di meja restorasi itu, saya melihat dan mendengar pembicaraan mas petugas melalu HP, yang menghubungi rekannya di Jogya. Lalu sibuk ketak ketik. Lumayan lama proses ketak-ketiknya. Karena mungkin jaringan sinyal di KA atau petugas diseberang sedang tidur. Suasana itu membuat saya jadi tegang juga. Ini pengalaman pertama dalam hidup, membuat keteledoran yang bodoh dan memalukan. Beberapa kali saya bertanya kepada mas petugas, bagaimana agar saya bisa sampai di Jogya tidak terlambat. Apakah dengan KA lagi atau dengan taksi atau bis? Saya khawatir keteledoran ini akan merepotkan agenda yang telah diatur oleh rekan-rekan yang lain.

Akhirnya mas petugas yang baik hati itu menjelaskan ” Ibu jangan khawatir, nanti sesampainya di Solo, saya akan antar ibu dan akan ada serah terima dengan petugas KAI disana. Nanti di jam 6 pagi, Ibu diikutkan dengan KRL dari Solo – Jogya. Ibu akan ditemani disana”

Ah, sejuknya mendengar kalimat itu, lepas semua beban kekhawatiran. Dalam hati saya kagum dengan pelayanan KAI sekarang. Tak hanya dari sisi fisik kereta apinya yang bersih dan tertib sejak dari stasiun, tapi juga pelayanan petugasnya yang sigap dan sangat sopan.

Baca juga:  Miracle: Datangnya Taksi Misterius

Akhirnya, kereta api berhenti di stasiun Solo Balapan, koper saya dibawakan dan dibawah tangga sudah ada petugas yang menjemput. Serah terima dilakukan dengan memperkenalkan petugas KAI Solo, yang selanjutnya akan mengurus segala keperluan saya untuk bisa kembali ke Jogya dengan kereta terpagi, KRL jam 6.

Sampai Solo sebelum datangnya subuh. Jadi bisa tahajud di mushola stasiun
Sampai Solo sebelum datangnya subuh. Jadi bisa tahajud di mushola stasiun

Karcis KRL Solo-Jogya sudah dibantu dibeli melalu aplikasi. Saya diminta untuk menunggu di area keberangkatan, dan petugas KAI tadi akan mengingatkan waktu KRL Solo-Jogya tiba. Masih ada waktu, saya putuskan untuk ke mushola stasiun untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan petugas dan penumpang kereta api yang lain. Air dingin yang membasahi muka, tangan dan kaki semakin meluluhkan hati untuk berserah diri pada Allah SWT. Pasti ada maksud DIA menidurkan saya di stasiun Jogya dan dapat melaksanakan sholat subuh berjamaah di mushola stasiun Solo. Mushola yang bersih, wc nya juga bersih dan ramah bagi warga senior karena ada akses untuk kursi roda.

Pengalaman menegangkan seorang warga senior yang tertidur di kereta api dan pelayanan KAI yang saya beri nilai 10. Ini harus saya ceritakan kepada semua orang.

Saya bangga, Indonesia memiliki KAI dengan pelayanan petugasnya yang sigap dan ramah, gerbong yang bersih dan nyaman serta stasiunnya yang keren, sejuk dan instagramable.

Yukk warga senior naik kereta api…

1 thought on “Terdampar di Solo”

  1. Alhamdulillah Wa syukurillah seneng bacanya warga senior di bantu sedemikian rupa bangga dengan pelayanan KAI.
    Istilah orang Jawa PT KAI bisa menguwongke warga indonesia setelah 80 tahun Merdeka ditengah kegalauan pelayanan publik yg lain yg masih carut marut dan banyak derai air mata.
    Bravo KAI

    Reply

Leave a Comment