Penulis: ZASKA
Selain bermanfaat bagi fisik, jalan kaki juga bisa memberikan manfaat bagi emosi kita. Hal ini bisa didapatkan dengan berjalan secara berkesadaran, atau Mindful Walking. Kegiatan berkesadaran ini mengajak kita untuk melihat kemampuan jalan kaki dari A ke B sebagai sesuatu yang seyogianya dinikmati dan disyukuri. Bukan sekadar sesuatu yang dianggap take it for granted.
Sudah dua malam Johnny dan saya menginap di Palem Kipas. Sebuah penginapan yang apik dan resik. Djodi dan Melly suami istri, merekalah pemilik rumah yang juga teman dekat kami sejak SMA. Palem Kipas terletak di kelurahan Mantrijeron, Yogyakarta. Kira-kira 600-an meter arah Barat Laut jalan Prawirotaman. Yang terkenal sebagai salah satu tempat nongkrong favorit wisatawan mancanegara.
Pagi ini kami bertiga, Djodi, Johnny dan saya berniat untuk jalan kaki di pagi hari. “Sebelum jalan senam dulu, ya. Nanti saya yang pimpin.” Kata Melly sambil mengarahkan kami untuk berkumpul di tempat yang lebih lapang.
Setelah mengatur posisi kami berdiri, dia pun mulai mendemonstrasikan gerakan-gerakan senam untuk kami ikuti. Dia sepertinya sudah mempersiapkan dengan seksama semua gerakan yang akan dilakukan. Dan juga tampak sudah terbiasa melakukannya. Gerakan-gerakannya mudah diikuti dan berurutan. Mencakup beberapa otot dan persendian, mulai dari kepala hingga ke pergelangan kaki.

Mindful Walking
Jalan pagi adalah kegiatan harian yang rutin dilakukan Melly dan Djodi. Pagi itu Djodi mengajak kami menelusuri salah satu lintasan yang biasa mereka lalui. “Kita akan blusukan merambahi jalan-jalan kampung. Jalan santai aja. Paling lama 2 jam. Mulai dari sini sampai kembali lagi ke sini.” Kata Djodi.
“Dua jam jalan santai. Cocok nih untuk latihan.” Kata saya dalam hati.
Saya memang merencanakan jalan pagi ini sebagai ajang latihan untuk mempraktikkan mindfulness saat berjalan kaki. Mindfulness adalah aktivitas memberi perhatian yang dilakukan secara sengaja, terhadap apa yang dialami pada saat ini, tanpa memberikan penilaian (non-judgmental). Jadi dalam praktik mindful walking, kita akan membangun kesadaran terhadap lingkungan di sepanjang lintasan. Dan memberikan perhatian pada perasaan yang timbul dalam diri, selama kita berjalan. Serta mencoba untuk “menerima” semua yang dirasakan, tanpa memberi label apapun. Baik yang dirasakan secara fisik, maupun psikologis.
Dari Gang ke Gang
Djodi memandu kami berjalan meninggalkan Palem Kipas. Menelusuri gang, menuju ke jalan besar. Saya sangat bersemangat. Sejak kaki mulai melangkah menapaki permukaan jalan, selain meperhatikan lingkungan, saya perhatikan pula apa yang terjadi dan dialami oleh tubuh. Saya pun berusaha membatasi diri untuk tidak terlalu banyak ngobrol dengan Johnny dan Djodi selama berjalan.
Langit cerah membuat mentari leluasa berbagi sinarnya.Pancaran sinar surya menimbulkan rasa hangat yang nyaman saat mengenai bagian wajah, lengan, paha dan betis saya. Setelah 10-an menit berjalan di trotoar jalan besar, kami mulai masuk ke jalan kampung. Kesan pertama yang tertangkap mata, begitu kami melewati mulut gang, adalah kebersihan yang terpelihara. Keseluruhan permukaan jalan ditutupi conblock dan semen. Di atasnya tidak tampak sisa atau ceceran sampah. Dan di kiri-kanan gang tidak ada selokan terbuka.

Lebar gang yang kami lalui beragam. Sebagian besar bisa dilalui sepeda motor, sekaligus dari dua arah yang berlawanan. Kadang ada gang yang cukup lebar untuk bisa dilalui satu mobil. Selama kami berjalan, di kiri-kanan gang selalu ada rumah atau tembok belakang rumah. Hanya satu-dua kali kami melihat ada tanah kosong. Dan rumah-rumah ini terkesan bersih serta terawat.
Meski padat tapi daerah pemukiman yang kami lalui memberi kesan tenang. Pagi itu hampir tidak pernah terdengar suara-suara yang berasal dari dalam rumah. Telinga saya tidak pernah menangkap suara orang. Baik yang sedang mengobrol, maupun yang sedang berkegiatan.
Salah satu gang yang kami lewati. Di salah satu penggalan perjalanan, ada satu lorong yang membawa kami langsung masuk ke sebuah pasar.
Jenang Gempol
“Kita akan ke sana. Itu Pasar Pujokusuman.” Kata Djodi sambil menunjuk ke arah sebuah bangunan lama bergaya Eropa yang tampak terawat. Di bagian tengah bangunan, di sebelah atas terlihat ada tulisan Sansekerta. Lingkungan di sekitarnya tampak bersih.
Saya mengeluarkan ponsel untuk mengambil foto beberapa obyek yang saya anggap menarik. Sementara Djodi dan Johnny terus berjalan mendekati satu kerumunan kecil. Dan kemudian membaur ke dalamnya. Mereka ikut berdiri dalam kumpulan orang yang hendak membeli Jenang Gempol. Yaitu salah satu makanan tradisional khas Yogyakarta yang boleh dibilang sudah langka.
Setelah menunggu lebih dari 10-an menit, kami pun mendapatkan 3 porsi hidangan yang disajikan dalam bungkusan daun pisang. Di atas trotoar di seberang pasar, 10-an langkah dari tempat ibu penjual Jenang Gempol, terlihat ada sebuah bangku kayu kosong. Dan kami pun makan disitu.
Ini adalah kali pertama saya mencicipi Jenang Gempol. Meski sederhana, tapi penampilannya membangkitkan selera dan rasa penasaran saya. Jenang gempol adalah kolaborasi dari tiga unsur. Yaitu bubur sumsum gula merah dan beras yang diolah dan dibentuk seperti kelereng (gempol), serta santan. Ketika ketiga unsur ini ditampilkan bersama-sama, maka kita akan mendapatkan sajian bertekstur halus, dengan paduan rasa manis dan gurih. Saya sengaja menikmati setiap suapan secara perlahan. Menghayati kelezatan rasanya selama berada di mulut.

Saya suka rasanya, dan menurut saya ukuran porsinya pun pas. Cocok sebagai penganan ringan sebelum sarapan pagi. Atau sebagai makanan pelengkap acara jalan pagi Memanjakan lidah dengan Jenang Gempol menjadi puncak acara jalan pagi ini.
Anugerah dari Sang Khalik
Dari Pasar Pujokusuman kami kembali jalan kaki ke Palem Kipas. Djodi memandu kami melalui lintasan yang berbeda. Namun masih tetap blusukan lewat gang-gang di kampung. Pagi ini kami berjalan dengan total jarak tempuh lebih kurang 3 kilometer. Kecuali melihat beberapa bangunan lama yang punya nilai sejarah dan merasakan Jenang Gempol yang kelezatannya patut dapat acungan jempol, kegiatan jalan pagi semacam ini bukan hal baru bagi saya.
Dalam benak saya, jalan pagi adalah kegiatan yang biasa-biasa saja. Mampu berjalan kaki dari titik A ke titik B adalah sesuatu yang saya anggap lumrah, gampang, dan pasti bisa dilakukan. Apalagi jika jarak tempuhnya dekat.
Tetapi ketika saya coba mempraktikkan mindful walking, kegiatan jalan pagi kali ini jadi terasa tidak biasa. Sambil berkesadaran penuh, saya menenggelamkan diri pada pengalaman berjalan di sepanjang lintasan blusukan ini. Langkah demi langkah, dan tanpa ekspektasi apapun.
Hal ini membuka kesempatan bagi saya untuk bisa lebih memperhatikan dan menikmati berbagai perasaan yang timbul, baik yang sifatnya fisik maupun psikologis. Baik perasaan yang ditimbulkan oleh pergerakan tubuh, maupun yang tertangkap melalui penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, atau pengecapan.
Pengalaman inipun menuntun saya untuk menyadari dan mensyukuri keandalan kinerja tubuh. Yang memungkinkan saya bisa menapaki keseluruhan lintasan jalan pagi dengan aman dan nyaman. Terutama kinerja yang berkaitan dengan tulang dan otot di pinggang, paha, lutut, dan kaki. Serta kinerja di bagian otak yang mengelola keseimbangan, koordinasi dan panca indra.
Sempat terbersit rasa malu, karena dalam kondisi normal, saya acap kali abai memberi perhatian pada kinerja tubuh. Apalagi mensyukuri keandalannya. Biasanya saya baru peduli pada kinerja tubuh hanya ketika keadaaanya bermasalah.
Ah, jalan kaki pagi ini memang istimewa. Seolah menyadarkan saya, bahwa berjalan kaki bukanlah semata-mata satu kegiatan untuk menggerakkan raga dari satu titik ke titik yang lain. Tapi juga merupakan salah satu bentuk anugerah dari Sang Khalik yang seyogyanya kita nikmati dan syukuri.



